Kepariwisataan,  Opini

Namu : Memilih Pariwisata ditengah Godaan Tambang

Beruntung, cuaca hari ini cukup bersahabat sehingga perjalanan kami tidak terlalu berat. Kendaraan Hilux yang berada di depan melaju gagah menaklukkan jalanan berlubang yang bagi pengemudinya mungkin hanya terasa seperti hamparan kerikil kecil. Sementara itu, saya berada di rombongan belakang menggunakan Toyota Innova yang dipenuhi anak-anak Generasi Z. Berbeda dengan penumpang Hilux yang sebagian besar diisi oleh para senior yang kami juluki sebagai “generasi kolonial”.

Di dalam Innova, perjalanan terasa hidup oleh obrolan yang mengalir tanpa arah yang jelas. Topiknya berpindah-pindah dengan cepat, mulai dari pekerjaan, persoalan pribadi, cerita masa lalu, hingga membahas kehidupan orang lain yang bahkan tidak ikut dalam perjalanan ini. Sesekali tawa pecah memenuhi kabin mobil. Obrolan yang acak dan spontan itu menjadi hiburan tersendiri sekaligus membuat pengemudi tetap terjaga sepanjang perjalanan.

Ketika jarak menuju Desa Namu diperkirakan tinggal sekitar satu kilometer lagi, suasana di dalam mobil perlahan berubah. Dari balik jendela, saya melihat sebuah pemandangan yang membuat kami terdiam. Di tengah bentangan alam yang sebelumnya didominasi warna hijau, tampak sebuah kawasan hutan yang berubah menjadi cokelat kemerahan. Vegetasi yang hilang . Tidak ada yang berbicara selama beberapa saat. Kami hanya memandangi pemandangan itu sambil menerka-nerka apa yang telah terjadi.

Pemandangan tersebut terus terbayang hingga kami tiba di Desa Namu.

Malam mulai turun. Tidak ada penerangan yang berlebihan. Cahaya bulan yang menggantung di langit berpadu dengan lampu-lampu jalan desa yang samar menerangi sekitar. Di tepi Pantai Namu, kami berkumpul di depan tenda. Ada yang duduk jongkok, ada yang bersandar santai di teras tenda, dan beberapa yang beruntung mendapatkan kursi lipat sehingga bisa menikmati malam dengan posisi paling nyaman. .

Meski suasana pantai terasa tenang dan damai, pikiran saya masih tertinggal pada pemandangan yang kami lihat menjelang tiba tadi. Lokasinya tidak terlalu jauh dari tempat kami berada saat ini. Dalam hati muncul pertanyaan, apakah suatu hari nanti tempat yang indah ini juga akan mengalami perubahan yang sama?

Lamunan itu buyar ketika terdengar suara Kepala Desa dari kejauhan.”Ayomi, kita makan malam dulu. Ibu desa sudah siapkan makan malam.”Ajakan itu langsung disambut serempak. Tidak ada yang menolak. Tidak ada basa-basi.

Barangkali karena kombinasi angin laut, perjalanan panjang, dan energi yang terkuras sepanjang hari membuat rasa lapar datang tanpa ampun.

Menu makan malam kami sebenarnya sederhana, ikan bakar, sayur terong yang dimix dengan daun kelor, serta sambal colo-colo khas buatan ibu desa. Namun malam itu, kesederhanaan justru terasa istimewa. Masing-masing mengambil nasi dan lauk jauh lebih banyak dari porsi normal. Seolah-olah kami baru saja menyelesaikan perjalanan berhari-hari tanpa makanan. Ibu desa hanya tersenyum melihat antusiasme para tamunya yang kelaparan.

Yang menarik, sepanjang makan malam hampir tidak ada percakapan. Semua begitu khusyuk menikmati hidangan yang tersaji. Sesekali hanya terdengar suara sendok yang beradu dengan piring. Malam itu, rasanya mulut kami memang diciptakan hanya untuk satu tujuan, menikmati makanan.

Setelah makan malam selesai, suasana kembali santai. Masing-masing mulai mencari posisi ternyaman. Sebagian memilih beristirahat di sekitar tenda. Sebagian lainnya berkumpul membentuk lingkaran kecil. Tim asap mulai menyalakan api kecil mereka, dan tanpa direncanakan sebuah forum nonformal perlahan terbentuk. Dari obrolan ringan, pembahasan berkembang menjadi diskusi yang cukup serius.

Kami sepakat bahwa pariwisata dan pertambangan sama-sama memiliki peran penting dalam pembangunan ekonomi. Masyarakat pun berhak menentukan sektor mana yang ingin mereka pilih sebagai jalan pembangunan daerahnya. Jika yang dicari adalah hasil yang cepat, pertambangan sering kali menjadi jawabannya. Banyak daerah mengalami pertumbuhan ekonomi yang pesat karena hadirnya aktivitas tambang. Namun tidak sedikit pula yang harus menanggung dampak lingkungan dan sosial setelah sumber daya alamnya habis dieksploitasi. Pariwisata menawarkan jalan yang berbeda. Hasilnya tidak datang secepat sektor tambang. Dibutuhkan waktu, kesabaran, pembangunan infrastruktur, peningkatan kualitas sumber daya manusia, penguatan kelembagaan, kemitraan yang sehat, serta konsistensi yang panjang. Namun ketika dikelola dengan baik, manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan oleh masyarakat setempat.

Kurang lebih seperti itulah rangkuman pembahasan di malam itu di tepi Pantai Namu.

Desa Namu merupakan salah satu desa pesisir di Kabupaten Konawe Selatan yang dikenal karena sikap warganya yang kompak menolak aktivitas pertambangan. Padahal, berdasarkan berbagai informasi yang berkembang, kawasan ini memiliki potensi sumber daya nikel yang cukup menjanjikan. Namun mayoritas masyarakat memilih jalan yang berbeda. Mereka ingin membangun desa melalui pariwisata.

saya merasa mulai memahami alasan mereka. Mungkin karena masyarakat Namu tidak hanya melihat apa yang bisa diperoleh hari ini. Mereka juga memikirkan apa yang masih bisa dinikmati anak cucu mereka kelak.

Mereka memilih menjaga pesisir, merawat alam, dan menanam harapan bahwa suatu hari nanti keindahan yang mereka miliki akan menjadi sumber kesejahteraan yang berkelanjutan bagi generasi mendatang.

Ternyata apa yang saya khawatirkan siang tadi hanyalah ilusi belaka, yah … mungkin karena faktor lapar.

Share this content:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *