Taman BRI Lapangan Merdeka dan Kenangan Putih Abu-Abu
Kota Baubau hari ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan Baubau sekitar enam belas tahun yang lalu. Beberapa sudut kota masih menyimpan wajah yang sama, meski sebagian lainnya telah berubah mengikuti perkembangan zaman. Salah satu tempat yang selalu mengingatkan saya pada masa putih abu-abu adalah Taman BRI di seberang Lapangan Merdeka.
Dahulu, kawasan ini hanyalah ruang terbuka sederhana yang berada tidak jauh dari Pelabuhan Murhum. Setelah ditata oleh Bank BRI, taman ini menjelma menjadi ruang publik yang nyaman untuk bersantai. Pohon-pohon besar tumbuh rindang, menaungi siapa saja yang datang. Di bawahnya, angin laut berembus lembut, mengusir panas matahari siang dan membuat suasana terasa sejuk.
Saat itu belum banyak kafe atau coffee shop seperti sekarang. Kami, anak-anak SMA, lebih akrab dengan ruang terbuka. Bangku taman, rerumputan, dan rindangnya pepohonan menjadi tempat terbaik untuk berkumpul. Kalau anak-anak sekarang menyebutnya healing atau “menyatu dengan alam”, mungkin itulah yang tanpa sadar sudah kami lakukan sejak dulu.
Ada satu hal yang membuat Taman BRI Lapangan Merdeka begitu istimewa. Dari sana, kami dapat menyaksikan kapal-kapal keluar masuk Teluk Buton. Ombak yang menghantam karang di bawah taman terdengar jelas, berpadu dengan semilir angin laut. Sesekali tampak nelayan memancing dari perahu-perahu kecil yang mengapung tenang di perairan. Pemandangan itu sederhana, tetapi mampu membuat siapa pun betah berlama-lama.
Kini, panorama itu tidak lagi sama. Deretan kontainer dan pembangunan dermaga pelabuhan menutupi sebagian besar pandangan ke laut. Wajah kota memang berubah, tetapi kenangan yang tersimpan di tempat itu tetap hidup di dalam ingatan.
Enam belas tahun lalu, sepulang sekolah saya sering singgah di taman ini. Bukan setiap hari, hanya sesekali ketika pikiran terasa penat. Duduk di bawah pohon, berbincang tentang banyak hal, tertawa tanpa beban, lalu pulang ke rumah. Tidak ada yang istimewa, tetapi justru kesederhanaan itulah yang kini terasa sangat berharga.
Pagi tadi saya kembali mampir. duduk sebentar menghadap ke laut, mencoba mencari potongan-potongan kenangan yang masih tersisa. Banyak yang telah berubah, tetapi angin yang berembus dari Teluk Buton seolah masih membawa cerita yang sama.
Mungkin benar, tempat tidak pernah benar-benar menyimpan kenangan. Kitalah yang menitipkannya di sana. Dan setiap kali kembali, yang sebenarnya kita temui bukan hanya sebuah taman, melainkan versi diri kita yang pernah tumbuh di masa putih abu-abu.
Share this content:


