-
Ziarah di Kampung yang hilang
Bagi mereka, pulau ini bukan sekadar tempat berwisata, melainkan tempat berziarah, mendoakan arwah leluhurnya. Di atas hamparan pasir putih, di bawah rindangnya pohon kelapa dan pinus, tenda berdiri dengan tegap. Kursi dan meja tertata rapi tepat di hadapan tenda. Angin berhembus pelan dari arah barat, membawa aroma laut yang menenangkan. Aktivitas di pulau ini tidak terlalu ramai, justru itulah yang membuatnya terasa hangat, menjadi tempat yang nyaman untuk berkumpul dan menikmati waktu bersama keluarga.Siapa sangka, pulau yang kini tampak tenang dan indah ini, dahulu merupakan tempat bermukimnya masyarakat nelayan. Kehidupan mereka lekat dengan perahu, jala, kail, bubu, dan tombak. Sejak dini hari, aktivitas telah dimulai, yang laki-laki bersiap melaut, sementara…
-
Penjaga Gerbang Maritim
Usianya hampir setengah abad. Hingga kini, patung itu masih berdiri kokoh di depan gerbang Pelabuhan Kota Baubau. Andai saja dia hidup dan berbicara, mungkin dia adalah saksi atas hiruk-pikuk aktivitas para pekerja pelabuhan dari masa ke masa. Dia tentu tahu kini sudah masuk generasi ke berapa para buruh pelabuhan yang berjubel dengan barang bawaan penumpang kapal. Mungkin dia juga bertanya-tanya ke mana perginya para tukang becak yang dulu berjejer ramai di dekat gerbang pelabuhan. Wajah-wajah tukang ojek yang dulu mangkal dan berebut penumpang kini telah berganti. Ia hafal betul para penumpang kapal yang hampir setiap minggu datang dan berangkat, kini wajah-wajah lama tidak terlihat lagi, yang tersisa hanyalah wajah-wajah baru…
-
Senja di Limbo Wolio (Kisah Benteng, kosmologi dan Jejak Islam di Buton)
Seperti biasanya, sore ini kawasan Limbo Wolio kembali ramai oleh muda-mudi yang berolahraga mengitari Benteng Keraton Buton. Di sudut lain, para pengunjung tampak santai menikmati lembutnya angin sore, seolah mereka tidak ingin melewatkan detik demi detik cahaya jingga yang perlahan turun di atas kota Baubau. Saya duduk di sisi utara benteng, tepat di atas dinding yang disusun dari tumpukan batu kapur dan batu karang, sebuah karya arsitektur yang berdiri tegak selama berabad-abad. Senja di Limbo Wolio memang berbeda, ada rasa takjub yang selalu muncul setiap kali memandang ke sekeliling. Ke arah utara misalnya, hamparan pemukiman masyarakat kota Baubau terlihat indah, membentang hingga ke garis laut Selat Buton. Dari ketinggian ini,…
-
Fight or Flight
Dalam banyak situasi, manusia justru menunjukan kemampuan terbaiknya ketika berada dalam tekanan atau kondisi yang terdesak. Ketika pilihan semakin sempit, maka otak dipaksa bekerja lebih cepat, dan lebih inovatif untuk menemukan jalan keluar. Berbagai penelitian menjelaskan bahwa tubuh akan mengaktifkan respon fight or flight (melawan atau melarikan diri). Ini adalah sebuah mekanisme biologis yang terjadi tanpa sadar, sifat alamiah sebagai bentuk pertahanan diri. Pikiran menjadi lebih tajam, adrenalin naik, dan kemampuan dalam membuat keputusan meningkat. Di momen inilah kreatifitas biasanya akan muncul, bahkan hal yang belum pernah terfikirkan sebelumnya. Melawan atau melarikan diri ? sebuah pertanyaan yang muncul dibenak para pemangku kebijakan di daerah pasca ditetapkannya kebijakan fiskal Nasional, pemotongan…
-
Wisata berkualitas dimulai dari usaha yang terstandar
Beberapa hari yang lalu, sebuah musibah terjadi di salah satu usaha pariwisata dan menelan korban jiwa. Peristiwa ini kembali mengingatkan kita tentang betapa pentingnya kesadaran kolektif dalam memperkuat sistem keselamatan di sektor pariwisata. Jika ditelusuri, kecelakaan pada umumnya dipengaruhi oleh dua faktor utama, faktor alam dan faktor kelalaian manusia. Namun, analisis menunjukkan bahwa kelalaian manusia menyumbang 70–90% penyebab kecelakaan, jauh lebih tinggi dibandingkan faktor alam yang hanya berada pada kisaran 10–30%. Angka ini dengan jelas menggambarkan bahwa peningkatan kesadaran, kepatuhan terhadap aturan, serta penguatan sistem keselamatan bukan lagi pilihan tetapi sudah menjadi kebutuhan mendesak. Pemerintah telah mengeluarkan berbagai kebijakan dan aturan dalam rangka memastikan bahwa setiap kegiatan usaha dijalankan sesuai…
-
Sekedar menunaikan kewajiban
Pagi itu, udara masih sejuk. Matahari masih belum utuh menampakan sinarnya. Suasana sejuk di area perkantoran, seakan pohon-pohon berbisik, “Semangat wahai para pelayan masyarakat, ingat ini sudah hari senin!” Seperti biasa, Lapangan upacara mulai di penuhi para ASN, Mereka datang dengan ekspresi khas hari pertama kerja, tatapan kosong dan bingung-bingung mungkin masih terbawa suasan libur kemarin. Apel pagi dimulai pukul 07.30. Para pimpinan barisan mulai menyiapkan pasukannya. Para peserta ada yang sigap mengikuti arahan, ada juga yang tampak seperti kehilangan arah, berdiri diam dengan tatapan kosong ke cakrawala, mungkin belum iklas kalau hari ini sudah hari senin. Pemandangan Dari depan, barisan tampak rapi dan tertib. Sangat mengesankan, seperti pasukan kehormatan…
-
“Roasting” Pagi
Penegakan disiplin bagi seluruh ASN kini menjadi perhatian serius para pimpinan instansi. Salah satu bentuk nyata penegakan disiplin itu adalah apel, baik apel pagi maupun apel sore. Bahkan, apel kini sudah jadi isu nasional tingkat instansi dibicarakan di mana-mana, seolah tanpa apel, roda birokrasi bisa kehilangan arah. Setiap pegawai dituntut bisa menjadi petugas apel, alias pimpinan barisan. Tugasnya sebenarnya sederhana, menyiapkan barisan, memberi aba-aba, melapor ke pembina apel, memimpin doa, lalu membubarkan barisan. Tapi entah mengapa, saat giliran tiba, tugas yang “sederhana” itu terasa seperti sedang memimpin upacara kemerdekaan di Istana Negara. Pukul 07.30, para pegawai sudah berbaris rapi di halaman kantor. Barisan di kelompokan berdasarkan bidang masing-masing , di situlah terlihat bidang mana…
-
Ninja Sejati
Di sebuah ruangan berukuran 6×9 meter. Seperti hari-hari biasanya, para pegawai terlihat sibuk dengan ritual sakral mereka masing-masing. Menatap layar PC dan jari jemarinya menari di atas papan keyboard. Ada yang mengetik laporan harian di aplikasi My ASN, ada yang menyusun konsep kegiatan, ada juga yang sedang berburu deadline mengumpulkan data dan dokumen permintaan dari bagian perencanaan. Dan ada juga segelintir pegawai yang masih sempat menscroll TikTok dan Instagram, melakukan riset sosial media untuk “menambah wawasan”.Pagi ini kantor terasa lebih ramai dari biasanya. Beberapa pegawai mondar-mandir ke ruangan Kepala Bidang. Ada yang masuk dan ada juga yang keluar. Yang keluar wajahnya seperti baru sajamenerima “penugasan wajib militer”. Dan yang mau…
-
Antara Terompet dan Deadline
Di sebuah ruangan berukuran 6×9 meter yang penuh dengan energi kerja dan sedikit aroma rebusan. Para pegawai sedang tenggelam dalam lautan tugas dan tanggung jawab. Papan keyboard nyaris kwalahan mengikuti arahan jari-jari yang menari menuntaskan draft surat. Ada yang serius menyusun konsep seperti sedang menyusun “pidato kenegaraan”. Ada yang kejar-kejaran dengan deadline ajang nominasi Kementerian seolah hidupnya ditentukan oleh submit sebelum jam 12.00 siang. Ada juga yang sibuk menelpon kanan-kiri, mirip petugas layanan pelanggan Telkomsel pas sedang jam sibuk. Dan satu orang terlihat sedang bertapa dalam keheningan, entah mencari wangsit, ketenangan, atau mungkin sinyal WiFi. Suasana mendadak hening, begitu heningnya hingga suara napas terdengar lebih jelas dari suara nada notifikasi…
-
Berburu Apel Pagi
Selasa 08 Juli 2025 Sejak Wakil Gubernur melakukan sidak ke kantor kami, suasana langsung berubah 180 derajat. Kalau sebelumnya apel pagi itu semacam mitos yang sering dibicarakan, tapi jarang terlihat, maka kini ia telah menjelma menjadi “rutinitas sakral”. Budaya apel pagi sekarang sudah mendarah daging di lingkungan Dinas Pariwisata. Bahkan, beberapa pegawai kayaknya lebih takut ketinggalan apel pagi dari pada ketinggalan “sholat berjamaah“. Alasannya karena jika satu hari tidak apel sama dengan satu hari dianggap tidak hadir, maka satu langkah lebih dekat menuju “surat cinta” dari pembina kepegawaian. Maka tidak heran, banyak yang rela jadi “pejuang subuh“, berangkat gelap demi satu tujuan mulia “stempel kehadiran”. Masuk kantor sekarang tidak cukup…








