Kepariwisataan,  Reflektif

Senja di Limbo Wolio (Kisah Benteng, kosmologi dan Jejak Islam di Buton)

WhatsApp-Image-2025-12-12-at-13.54.45 Senja di Limbo Wolio (Kisah Benteng, kosmologi dan Jejak Islam di Buton)

Seperti biasanya, sore ini kawasan Limbo Wolio kembali ramai oleh muda-mudi yang berolahraga mengitari Benteng Keraton Buton. Di sudut lain, para pengunjung tampak santai menikmati lembutnya angin sore, seolah mereka tidak ingin melewatkan detik demi detik cahaya jingga yang perlahan turun di atas kota Baubau.

Saya duduk di sisi utara benteng, tepat di atas dinding yang disusun dari tumpukan batu kapur dan batu karang, sebuah karya arsitektur yang berdiri tegak selama berabad-abad. Senja di Limbo Wolio memang berbeda, ada rasa takjub yang selalu muncul setiap kali memandang ke sekeliling. Ke arah utara misalnya, hamparan pemukiman masyarakat kota Baubau terlihat indah, membentang hingga ke garis laut Selat Buton. Dari ketinggian ini, aktivitas kapal yang berlabuh maupun yang hendak berlayar tampak jelas terlihat, menambah harmoni antara alam, manusia, dan sejarah.

Benteng dengan konstruksi batu karang yang kokoh ini disempurnakan pada abad ke-15, di bawah kepemimpinan Sultan La Elangi, atau yang lebih dikenal dengan Dayanu Ikhsanuddin. Konon, sebelum berdiri seperti sekarang, benteng hanya berupa pagar tanah dan kayu. Namun seiring kebutuhan pertahanan, maka benteng ini diperkuat dengan susunan batu kapur dan batu karang yang disusun dengan ketelitian luar biasa, menjadikannya salah satu benteng terluas di dunia berdasarkan Guinnes Book of World Records dan museum rekor dunia Indonesia (MURI) pada tahun 2006 dengan keliling mencapai 2.740 meter.

Di sepanjang bangunan benteng terdapat 12 gerbang atau dalam bahasa wolionya disebut lawa, gerbang-gerbang sempit dan melengkung yang dirancang untuk menghambat dan memperlambat gerak musuh. Pada masa perang, setiap gerbang atau lawa dapat ditutup dengan cepat, sehingga menciptakan pertahanan yang hampir mustahil ditembus. Selain gerbang atau lawa, benteng ini juga diperkaya dengan 16 menara pantau atau dalam bahasa wolionya adalah baluara, menara pengawas atau baluara berada di sudut-sudut strategis benteng. Dari menara atau baluara inilah para penjaga mengawasi pergerakan musuh, baik musuh yang ada didarat maupun musuh dari kapal yang akan mendekat. Para penjaga menara atau baluara menggunakan asap, api, atau bunyi-bunyian untuk mengirimkan sinyal ke baluara lain, membentuk sistem peringatan dini yang cerdas untuk ukuran zamannya dimasa itu.

Keunggulan benteng ini bukan hanya pada kokohnya konstruksi, tetapi juga pada pemilihan lokasinya. Berada didataran tinggi, dikelilingi hutan lebat, tebing alami, dan permukaan tanah yang menanjak, Benteng Keraton Buton seolah dilindungi langsung oleh alam. Sebuah benteng dalam arti fisik maupun filosofis.

Menjelang senja, tidak ada yang lebih pas selain menikmati suasana pelataran benteng dengan segelas kopi. Beruntung kini banyak warga yang berjualan makanan ringan dan minuman di sekitar area. Salah satu yang paling menggoda adalah tuli-tuli, kue khas Wolio berbentuk angka delapan. Rasanya gurih dan sedikit asin, teksturnya renyah diluar namun lembut didalam, apalagi bila dipadukan dengan lombo tumis, perpaduan sederhana, tetapi mampu membawa lidah pada nostalgia rasa tradisi.

Saat menyerupt kopi, kekaguman saya terus bertambah, akan nilai-nilai yang tersembunyi di balik bangunan bersejarah ini. Benteng Keraton Buton bukan sekadar struktur pertahanan. Ia adalah simbol keilmuan, tempat nilai-nilai spiritual dan arsitektural melebur menjadi identitas budaya. Dari sisi konstruksi, benteng menggambarkan kosmologi Buton, sementara dari sisi sistem politik, ia mencerminkan bentuk demokrasi lokal di mana seluruh desa atau kadie ibarat berada dalam satu lingkaran yang terhubung dengan pusat pemerintahan.

Ketika cahaya senja hampir lenyap, suara azan Magrib berkumandang dari Masjid Agung Keraton. Suara itu seolah memanggil kembali ingatan lama tentang sosok pengembara yang berpengaruh besar dalam sejarah timur nusantara Syeikh Abdul Wahid bin Syarif Sulaiman al-Fathani. Beliau adalah seorang tokoh  yang membawa ajaran Islam ke tanah Buton, mengubah kerajaan kala itu menjadi Kesultanan Buton. Dakwah dan ilmunya menjadi fondasi spiritual masyarakat Wolio masa itu.

Saya beranjak dari tempat duduk, berjalan menuju Masjid Agung Keraton. Dari kejauhan, tampak beberapa tokoh agama berjubah putih memasuki masjid sambil membawa tongkat kecil, ciri khas perangkat ibadah di masjid keraton. Dalam keheningan Magrib, kami pun berdiri bersama, meluruskan saf untuk menunaikan salat berjamaah di rumah ibadah yang telah menjadi jantung spiritual Kesultanan Buton selama ratusan tahun.

Senja telah berlalu, tetapi kisahnya tetap tinggal di atas batu-batu kapur, di balik lawa dan baluara, dan di dalam hati para pengunjung yang menyaksikan bagaimana sejarah, alam, dan iman bertemu di tempat yang bernama Limbo Wolio.

WhatsApp-Image-2025-12-12-at-13.50.26-1024x576 Senja di Limbo Wolio (Kisah Benteng, kosmologi dan Jejak Islam di Buton)

Share this content:

3 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *