Kepariwisataan,  Reflektif,  Uncategorized

Menikmati senja di ujung selatan pulau buton


“Kemarin kulihat awan membentuk wajahmu, desau angin meniupkan namamu.”


Sepenggal bait lagu itu tiba-tiba terlintas di benak saya. Ingin rasanya melanjutkan lirik berikutnya, tetapi ingatan tak mampu mengikutinya. Entah mengapa, bait itu muncul begitu saja saat pandangan saya tertuju ke arah Teluk Lande.


Di hadapan saya terbentang pemandangan yang nyaris sempurna. Laut yang tenang membentang luas, dikelilingi tebing-tebing batu yang berdiri kokoh seperti pelindung alami. Awan perlahan berubah warna mengikuti perjalanan senja, sementara cahaya matahari sore menyelimuti teluk dengan kehangatan yang menenangkan.

Di bawah tebing, kapal-kapal nelayan terparkir rapi menunggu waktu untuk kembali melaut. Beberapa perahu lainnya tampak baru saja pulang dari perburuan ikan, bergerak perlahan menuju daratan.


Perjalanan menuju tempat ini bukanlah perjalanan yang singkat. Dari Kota Baubau, diperlukan waktu sekitar satu setengah jam melalui jalan yang dipenuhi tanjakan dan turunan. Namun setiap kilometer yang dilalui seakan terbayar lunas oleh pemandangan yang tersaji sepanjang perjalanan. Tebing-tebing batu, kawasan pemukiman, hingga hamparan hutan silih berganti menemani langkah kendaraan.


Ada tiga jalur yang dapat dipilih untuk mencapai Teluk Lande. Jalur pertama melalui Batauga di Kabupaten Buton Selatan, jalur kedua melalui Desa Kaongkeongkea di Kabupaten Buton, dan jalur ketiga melalui Desa Wasuemba. Sore itu saya memilih melewati Desa Kaongkeongkea, sebuah desa yang cukup dikenal berkat kopi lokalnya.


Nama Kaongkeongkea mengingatkan saya pada sebuah kunjungan beberapa waktu lalu. Saat itu saya berkesempatan mendatangi kebun-kebun kopi bersama kepala desa setempat. Kami menyaksikan langsung para petani memetik buah kopi robusta yang telah matang dari pohonnya. Kini hasil panen tersebut telah hadir dalam kemasan bubuk kopi yang siap untuk disajikan. Dalam perjalanan siang tadi saya mampir diwarung sekitar kantor desa Kaongkeongkea untuk membeli kopi bubuk siap saji hasil dari panen masyarakat setempat.


Kopi yang saya beli dalam perjalanan tadi kini tersaji dalam cangkir kecil di hadapan saya. Tidak ada gula, apalagi susu kental manis. Hanya kopi hitam murni dengan warna hitam yang pekat. Di permukaannya masih tampak butiran-butiran halus serbuk kopi yang perlahan tenggelam ke dasar cangkir.
Segelas kopi Kaongkeongkea menjadi pelengkap yang sempurna untuk sore itu. Kehangatannya menyatu dengan semilir angin pesisir yang berembus lembut.

Dari tempat saya berdiri, Teluk Lande tampak begitu istimewa, seolah-olah diciptakan untuk mengingatkan manusia akan kebesaran Sang Pencipta. Selain menawarkan panorama yang memikat, teluk ini juga memiliki peran penting bagi masyarakat pesisir. Letaknya yang terlindung menjadikannya tempat bernaung yang aman bagi perahu-perahu nelayan ketika musim ombak besar datang. Tebing-tebing yang mengelilinginya berfungsi layaknya benteng alami yang menjaga ketenangan perairan di dalam teluk.


Dari tepi tebing Waburi Park, saya menikmati detik demi detik yang berjalan perlahan. Waktu seakan enggan beranjak terlalu cepat. Keheningan sore menyelimuti suasana, menghadirkan rasa syukur yang sulit diterjemahkan dengan kata-kata.


Di tengah ketenangan itu, ingatan saya melayang kepada sosok mantan kepala desa yang memiliki peran penting dalam perkembangan kawasan ini. Beliau adalah seorang perempuan tangguh yang pertama kali saya kenal saat mengikuti kegiatan studi tiru yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata Provinsi Sulawesi Tenggara.
Program tersebut mempertemukan para kepala desa yang memiliki komitmen dalam mengembangkan desa wisata. Saya mendapat tugas mendampingi mereka belajar langsung ke sejumlah desa wisata di Provinsi Jawa Tengah. Di sana mereka menyaksikan bagaimana potensi desa digali, dikembangkan, dan dijaga keberlanjutannya.


Perjalanan belajar itu ternyata meninggalkan kesan yang mendalam. Banyak gagasan baru lahir setelahnya. Cara pandang terhadap pariwisata berkembang, wawasan semakin terbuka, dan berbagai inovasi mulai bermunculan. Apa yang sebelumnya mungkin masih tampak samar, perlahan menjadi lebih jelas dan berwarna.


Menurut saya, program studi tiru tersebut turut memberikan andil dalam perjalanan panjang yang menjadikan Waburi Park sebagai salah satu destinasi unggulan di Kabupaten Buton Selatan saat ini.


Tanpa terasa, kopi di cangkir saya hampir habis. Mungkin hanya tersisa tiga tegukan lagi.
Pandangan saya kemudian tertuju pada sebuah tulisan besar yang berdiri tegak di tepi tebing, Waburi Park.
Tulisan itu membawa saya pada sebuah cerita rakyat yang telah lama hidup di tengah masyarakat. Kisah tentang seorang perempuan cantik yang dicintai oleh banyak orang karena kebaikan hati, kedermawanan, dan kesaktiannya. Ia dikenal sebagai sosok yang selalu hadir membantu masyarakatnya.
Konon, suatu peristiwa membuat perempuan itu harus berpisah dengan orang-orang yang dicintainya. Dalam kesedihan yang mendalam, ia memanjatkan doa agar keberadaannya tetap dikenang dan dapat memberi manfaat bagi generasi yang akan datang.
Atas kehendak Tuhan, perempuan itu kemudian berubah menjadi tanaman bunga yang indah. Keunikannya terletak pada kemampuannya menghasilkan beragam warna bunga dalam satu tangkai. Masyarakat setempat mengenalnya sebagai Kamba Waburi, atau bunga Waburi.
Seiring waktu, nama Waburi tidak hanya melekat pada bunga tersebut, tetapi juga menjadi identitas kawasan wisata yang kini berdiri megah di atas tebing menghadap Teluk Lande.

Share this content:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *