Menikmati senja di ujung selatan pulau buton
“Kemarin kulihat awan membentuk wajahmu, desau angin meniupkan namamu.” Sepenggal bait lagu yang terbesit di pikiran. Ingin kulanjutkan baitnya, namun sayangnya ingatanku terbatas. Bait lagu itu tiba-tiba muncul saat pandanganku tertuju ke arah Teluk Lande. Di sana terbentang pemandangan yang begitu utuh, laut yang tenang, tebing batu yang mengelilingi laut, awan yang perlahan berubah warna, cahaya matahari senja yang menghangatkan, serta kapal-kapal nelayan yang terparkir rapi di bawah tebing batu. Beberapa perahu lain tampak baru saja kembali dari laut, perlahan mendekati daratan.
Untuk sampai ditempat ini, saya harus menempuh perjalanan darat melewati jalur tanjakan dan turunan, sepanjang perjalanan kita akan disuguhkan dengan pemandangan tebing, kawasan pemukiman, dan kawasan hutan. Jika dihitung-hitung butuh waktu 90 menit lebih sedikit dari kota baubau. Ada tiga pilihan jalur untuk sampai ketempat ini, yang satu jalur Batauga Kab Buton Selatan, satunya jalur Desa Kaongkeongkea Kab Buton dan yang satunya lagi jalur Desa Wasuemba Kab Buton. Tadi saya memilih jalur Desa kaongkeongkea kabupaten buton. Desa yang terkenal dengan produk kopi lokalnya. Jenis kopinya adalah robusta, suatu waktu saya pernah berkunjung ke kebun kopi, ditemani oleh kepala desa Kaongkeongkea melihat secara langsung para petani kopi memetik biji kopi langsung dari pohonnya. Kini produknya tersedia dalam kemasan 500 gr dan 300 gr. Produk kopi kaongkeongkea tersedia di warung-warung masyarakat tepatnya di samping kantor desa kaongkeongkea.
Kopi yang saya beli diperjalanan tadi (kopi kaongkeongkea) kini terhidang didalam cangkir kecil, tidak ada tambahan gula apalagi susu kental manis. Warnanya hitam pekat, dipermukaannya masih mengapung butiran-butiran kecil serbuk kopi yang sebentar lagi akan tenggelam didasar cangkir.
Segelas kopi hitam (kopi kaongkeongkea) menjadi pelengkap momen sore ini. Hangatnya menyatu dengan semilir angin pesisir. Teluk Lande memang istimewa, sebuah kawasan yang seolah diciptakan untuk
merefleksikan kebesaran Sang Pencipta. Letaknya yang strategis menjadikan teluk ini sebagai tempat berlindung yang aman bagi perahu-perahu nelayan saat musim ombak besar tiba. Tebing-tebing yang mengelilingi teluk seakan menjadi benteng alami.
Dari pinggir tebing Waburi Park, saya menikmati detik demi detik, menit demi menit, seakan waktu pun enggan beranjak terlalu cepat. Suasana tenang menyelimuti, menghadirkan rasa syukur yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Dalam keheningan sore ini, Saya teringat dengan sosok mantan kepala desa. Beliau adalah seorang perempuan tangguh. Awal perkenalan saya saat kegiatan studi tiru (program dinas pariwisata provinsi yakni memfasilitasi para kepala desa yang memiliki kesungguhan dalam pengembangan desa wisata untuk belajar dan berinteraksi langsung ke desa-desa wisata yang berhasil), saat itu saya sebagai pendamping para kepala desa, kami membawa para kepala desa untuk belajar ke desa wisata di Provinsi Jawa Tengah, merekabelajar bagaimana melihat potensi, mengembangkan potensi dan cara bagaimana mempertahankan eksistensinya. Faktanya hasil dari kegiatan studi tiru lahir inovasi -inovasi baru, cara pandang baru, cakrawala kepariwisataan yang mungkin selama ini berwarna abu-abu kini berwarna warni.
Menurut saya proram studi tiru memiliki andil menjadikan tempat ini (waburi park) menjadi salah satu destinasi unggulan yang ada di Kabupaten Buton Selatan.
Kopi saya sudah hampir habis. Barangkali tinggal 3 kali tegukan. Sebuah tulisan besar yang berdiri dipinggir tebing membawa kembali ingatan saya, sebuah cerita rakyat tentang keunikan bunga yang mampu menghasilkan begitu banyak warna, Diceritakan bunga yang mampu menghasilkan hingga tujuh warna bunga didalam satu tangkai pohonnya. Konon bunga tersebut dulunya adalah seorang perempuan cantik yang dicintai oleh masyarakatnya, ia dikenal karena kebaikannya, sikapnya yang dermawan dan karena kesaktiannya. Suatu ketika terjadi peristiwa yang membuatnya harus berpisah dari orang-orang yang ia sayangi. Dalam kesedihannya ia berdoa agar keberadaannya tetap dikenang dan dapat memberi manfaat bagi generasi yang akan datang. Atas kehendak tuhan maka ia berubah menjadi tanaman bunga yang indah dengan banyak warna, tanaman indah itu bernama bunga waburi atau dalam bahasa lokalnya adalah kamba waburi. Kini nama waburi juga digunakan sebagai nama destinasi wisata seperti tulisan yang berdiri tegak dipinggir tebing tersebut.
Share this content:


