Di ujung Pasir Putih Lahonduru
Hari ini kami kembali menginjakan kaki disebuah desa yang suasananya begitu lekat dengan air laut, pasir putih dan pohon kelapa. Sebuah desa yang jalanannya putih, bukan karena cat atau paving block, melainkan karena jalanannya hanya beralaskan pasir putih yang halus. Hal inilah yang membentuk identitas desa ini menjadi desa wisata bahari.
Kendaraan yang kami tumpangi perlahan memasuki kawasan permukiman. Aktifitas masyarakat desa menjadi pemandangan pembuka. Anak-anak yang berlari tanpa alas kaki, rumah-rumah panggung berdiri kokoh berjejer menghadap laut, pohon kelapa berdiri berbaris rapi dimana daunnya bergoyang mengikuti irama angin, di halaman rumah, ada ibu-ibu yang menjemur ikan kering. Pemandangan seperti ini mungkin bagi masyarakat desa hanyalah rutinitas biasa, namun bagi kami yang datang dari jauh, rutinitas ini seperti potongan cerita yang hidup.
Desa ini adalah pecahan dari desa induk yang terletak di bagian timur Pulau Buton. Sebagian masyarakat berprofesi sebagai nelayan, sementara sebagian lainnya berkebun. Dalam beberapa tahun terakhir, warga mulai giat membangun identitas baru, menjadikan kampung mereka sebagai desa wisata.
Perjalanan kami berakhir disebuah bangunan ikonik bernama Baruga. Bangunan multifungsi ini kerap menjadi tempat musyawarah adat, sekaligus tempat akad nikah bagi warga setempat. Letakya berada di ujung desa. Tidak jauh dari sini terdapat sebuah kolam alami berukuran besar, dikelilingi batuan karst, didalamnya hidup ikan-ikan yang oleh masyarakat disebut ikan purba. Jumlahnya banyak ukurannya besar, dengan warna merah dan hitam yang mencolok. Bagi warga ikan-ikan itu bukan sekedar mahluk hidup, melainkan bagian dari cerita rakyat yang dijaga oleh adat dan kepercayaan turun temurun. Lokasi ini berdampingan dengan Pantai Lahonduru. Pantai Lahonduru adalah salah satu daya tarik utama desa ini. Hamparan pasir putih membentang luas, dihiasi pohon kelapa dan gazebo gazebo sederhana yang berdiri menghadap laut.
Di Baruga. Pak Desa, Ibu Sekdes dan Pak La Andi juga beberapa warga telah menunggu. Senyum hangat dan suasana kekeluargaan menyambut kedatangan kami, menghapus rasa lelah perjalanan. Canda dan tawa mengiringi diskusi yang berlangsung santai. Sementara di sudut bangunan Baruga, para ibu-ibu menyiapkan makan siang. Aroma ikan bakar mulai menyebar. Menggoda perut kami yang kebetulan sangat lapar. Pak Desa mulai mempersilahkan. Sesi menyendok dibuka dan diresmikan oleh Kepala Dinas, di susul oleh Kepala Bidang, lalu berlanjut. Tidak ada instruksi formal, namun semuanya mengalir begitu saja.
Makan siang kali ini berbeda, biasanya ikan hanyalah lauk pendamping nasi, tetapi kali ini keadaan justru terbalik, nasi terasa seperti lauk, karena melimpahnya ikan yang disajikan. Rupanya, sebelum rombongan tiba “wallet” driver kepala dinas sudah mengirim kabar ke Pak La Andi tentang kedatangan kami.
Sebagai sosok yang dikenal responsif, Pak La Andi segera membagi tugas. Ada yang memasak nasi, ada yang menyiapkan colo-colo. Sementara beliau sendiri turun langsung ke laut untuk menangkap ikan. Pantas saja daging ikan terasa manis ternyata ikan-ikan itu baru saja meninggal dunia beberapa jam yang lalu.
Setelah perut terisi penuh, Pak Desa mengajak kami bersantai di tepi pantai Lahonduru. Bangunan gazebo menjadi tempat peristirahatan yang sempurna. Didepan kami terbentang kawasan perairan larangan untuk menangkap ikan. Namanya kawasan kaombo. Sama halnya dengan kolam yang berisikan ikan purba tadi, kawasan ini juga terjaga dan terpelihara oleh adat, budaya dan cerita-cerita rakyat.
Sementara kawasan disebelahnya adalah kawasan yang dijadikan sebagai medan pertombakan. Bukan medan perang antara warga melainkan area menombak ikan. Tombak ikan merupakan salah satu atraksi wisata, dimana para pengunjung yang ingin mencoba, maka akan dilengkapi dengan peralatan tombak, keranjang dan sepatu bot. Saat air surut ikan-ikan terperangkap di sela karang. setiap peserta diperbolehkan menunjukan kemampuan dan akurasinya dalam menggunakan alat tombak.
Waktu berjalan begitu lambat. Suara ombak dan kicauan burung menghanyutkan suasana siang di pantai lahonduru. Setiap akibat pasti ada sebabnya. Sebabnya adalah perut terlalu kenyang, maka akibatnya adalah rasa ngantuk perlahan menyerang. Apalagi hembusan angin laut yang membuat suasana siang di Pantai Lahonduru terasa begitu syahdu.
Kata Pak La Andi sambil memandang laut, “suasana seperti ini bagi kami biasa saja, tapi katanya orang kota, menyebut tempat ini surga”.
Share this content:


