Perjalanan yang sederhana
Pukul 10.15. Matahari bersinar begitu terik, seolah ingin menguji kesabaran kami sebelum menikmati hari ini. Kami baru saja tiba setelah menempuh perjalanan sekitar 45 menit dari Kota Kendari. Kendaraan yang kami tumpangi sepertinya lelah, sama juga dengan kami.
Dari atas mobil, saya mencari tempat berteduh yang layak untuk kendaraan, melihat ke seluruh area parkir, hamparannya luas, sama seperti lapangan sepak bola, bedanya, cuman tidak ada gawang dan garis lapangan saja.
Tanah lapang yang terbuka, nyaris tanpa perlindungan dari sengatan matahari. Saya mencari sudut yang sedikit lebih ramah, paling tidak kaca depan mobil saya tidak langsung terkena cahaya matahari.
Perhatian saya tertuju pada sebuah pohon jambu. Bukan karena rindangnya, melainkan karena warna buahnya yang mencolok dan menggoda. Mungkin memang sedang musim jambu, karena sepanjang perjalanan tadi tadi juga banyak yang berjualan buah dipinggir jalan, ada buah rambutan buah durian, juga ada buah langsat. mungkin bulan ini memang musim buah.
Musim buah mengingatkan saya pada masa kecil. Dulu, hidup seolah memiliki musimnya sendiri, ada musim kelereng, musim layang-layang, musim wayang. Namun, ada satu yang tidak pernah mengenal musim, yaitu main bola. Selama ada bola, jalan raya pun bisa berubah menjadi stadion, sendal yang kadang berubah fungsinya, kadang jadi tiang gawang, kadang juga jadi sarung tangan kiper. Kenangan itu melintas begitu saja, menghadirkan senyum kecil di tengah panas siang ini.
Walau tidak terlalu rindang, akhirnya saya memutuskan berhenti di bawah pohon jambu. Karena memang tidak ada pilihan lain.
Kendaraan hanya diperbolehkan sampai di area parkir. Kamipun mulai menurunkan barang satu per satu. Tanpa banyak komando, masing-masing sudah tahu tugasnya. Seolah ada pembagian peran yang tidak pernah tertulis, tetapi selalu dipahami.
Begitu melangkah memasuki kawasan permandian, suasana langsung berubah. Udara terasa lebih segar. Suara gemuruh air sungai menyambut kami, berpadu dengan tawa para pengunjung yang bermain air. Panas yang tadi menyengat perlahan tergantikan oleh kesejukan yang menenangkan.
Kami memilih lokasi paling atas namanya gazebo terakhir. Disebut demikian karena di situlah jalan dan daratan berakhir. Jika ingin melanjutkan perjalanan ke atas, pengunjung harus menyeberangi sungai. Bagi yang datang bersama keluarga, jalur itu kurang direkomendasikan. Jadi, gazebo terakhir terasa seperti batas aman sekaligus titik terbaik untuk menikmati semuanya.
Perjalanan menuju ke sana sejauh kurang lebih 500 meter, terasa menyenangkan. Di sepanjang jalan, kami disuguhi pemandangan hutan yang hijau dan aliran sungai yang jernih. Gazebo berjajar di tepi sungai, sementara warung-warung kecil menyediakan jajanan dan minuman sederhana. Suara air, dan percakapan para pengunjung berpadu menjadi harmoni.
Setibanya di gazebo terakhir, kami kembali sibuk dengan peran masing-masing. Barang-barang ditata rapi. Istri menyiapkan makan siang. Si kecil tidak sabar langsung berlari menuju sungai bermain air dengan riang. Sementara saya menata kursi dan meja di dekat aliran sungai yang kecil, mengeluarkan peralatan kopi, lalu duduk sejenak menikmati suasana.
Dalam momen seperti ini, hidup terasa begitu sederhana. Ibu menyiapkan makanan dengan penuh kasih, anak bermain dengan bebas, dan suami duduk santai menyeduh kopi, memandangi aliran air yang tidak pernah berhenti. Seakan-akan alam mengingatkan kami tentang ritme kehidupan yang mengalir dan tanpa tergesa gesa.
Ketika waktu makan siang tiba, kami berkumpul. Hidangan yang tersaji sederhana, tetapi terasa istimewa. Suara gemuruh sungai menjadi latar, pepohonan menjadi dinding, dan langit biru menjadi atapnya. Kami makan, berbincang, menikmati hidangan yang sederhana ini.
Ditempat seperti ini kita belajar kalau kebahagiaan
tidak selalu datang dari tempat yang sempurna. Kadang ia hadir dari perjalanan yang sederhana.

Share this content:


