Reflektif

Diantara gerimis, senja dan harapan

70BDBDD8-2BC2-4AAA-A42A-B7EC3C095EFB-2-683x1024 Diantara gerimis, senja dan harapan

Perahu kecil ini membelah laut Moramo Utara dengan pelan. Suara mesin tua berdengung lirih, membentuk irama khas perjalanan laut yang sederhana namun penuh makna. Saya duduk di pinggir perahu, tepat di depan sang juru kemudi. Angin asin mulai menyentuh wajah, membawa aroma laut yang akrab, sementara hujan gerimis jatuh perlahan, menghadirkan suasana syahdu. kini garis pantai Konawe Selatan kian menjauh ke belakang. Hari ini, tujuan kami adalah Pulau Senja dan Pantai Kartika.

Beberapa pekan terakhir, Pulau Senja dan Pantai Kartika menjadi topik yang hangat diperbincangkan. Video dan narasinya berulang kali muncul di beranda TikTok saya. Video-video itu FYP. Dunia digital seolah menyatakan dukungannya.

Sejak dulu, Pulau Senja dan Pantai Kartika memang dikenal dengan pesona wisata baharinya. Alamnya relatif terjaga, baik di atas maupun di bawah permukaan lautnya. Terumbu karangnya masih alami, menjadi rumah bagi beragam biota laut, batuan karst purba berdiri kokoh, membentuk lanskap yang unik dan penuh cerita geologis. Tidak sedikit orang menyebutnya sebagai “Raja Ampat versi Konawe Selatan” sebuah pujian, sekaligus pengingat akan besarnya tanggung jawab yang harus dijaga.

Perahu kecil milik masyarakat lokal menjadi alat transportasi kami. Kapasitasnya sekitar 10 hingga 13 penumpang, digerakkan oleh mesin tua yang tampak berkarat namun tetap setia mengantar pemiliknya mencari nafkah. Sehari-hari, perahu ini digunakan untuk melaut dan mencari ikan. Hari ini, ia beralih fungsi, mengantar kami mencari narasi, merekam fakta, dan menyaksikan langsung apa yang selama ini hadir dalam potongan video singkat.

Juru mudi menjemput kami di sebuah dermaga milik perusahaan galian batu atau gamping, lokasinya tepat di depan Pulau Senja. Aktivitas pertambangan dan bongkar muat kapal menjadi pemandangan yang tak terhindarkan. Truk-truk keluar masuk diarea galian, sementara para karyawan, lengkap dengan helm dan rompi keselamatan, sibuk dengan tugas masing-masing. Kawasan ini bukan area yang mudah diakses masyarakat umum. Untuk sampai ke sini, kami harus melewati tiga gerbang yang dijaga aparat keamanan, sebuah kontras nyata antara industri ekstraktif dan lanskap alam yang rapuh.

Perahu kecil itu perlahan menjauh dari daratan. Saya duduk di depan juru mudi. Angin asin semakin terasa, untung sebelum berangkat saya sempat mengoleskan sunblock diwajah. Siang ini matahari tidak seterik biasanya, hujan gerimis seolah menjadi pengantar perjalanan kami. Tak sampai tiga menit, Pulau Senja telah di depan mata.

Pulau Senja tidak begitu luas. Perkiraan saya, mungkin hanya seukuran dua lapangan futsal, ukuran yang saya kira-kira dari atas perahu, tanpa alat ukur, hanya mengandalkan pandangan mata. Di sekelilingnya, saya tidak mendapati pasir di bibir pantainya. Yang ada hanyalah susunan batuan karst purba dan pepohonan yang tumbuh di atasnya. Pulau ini lebih tampak sebagai benteng alami yang teguh menahan ombak. Konon, dari sinilah senja terlihat paling indah, ketika matahari perlahan tenggelam di balik cakrawala. Barangkali karena itulah pulau kecil ini dinamai Pulau Senja.

Setelah puas memutari Pulau Senja, perahu kecil kami kembali memacu mesin tuanya menuju kawasan Tanjung dan Pantai Kartika. Berbeda dengan Pulau Senja, Pantai Kartika memiliki bentang yang jauh lebih luas. Kawasan ini terdiri atas hutan, tebing batuan, dan hamparan pasir di bibir pantainya. Informasi yang saya dengar, nama “Kartika” diambil dari nama pemilik sebagian kawasan pantai ini, sebuah penanda relasi antara ruang alam dan kepemilikan manusia.

Dari bibir Pantai Kartika, perjalanan kami berlanjut menuju sebuah kawasan yang menyerupai teluk kecil, seperti danau air laut. Dari atas perahu, pemandangan alam yang tersaji terasa menakjubkan. Hutannya masih lebat dan relatif tak berpenghuni, air lautnya berwarna hijau jernih, tenang tanpa riak berlebih. Suara burung bersahut-sahutan berpadu dengan dengung mesin perahu, seolah menjadi jamuan selamat datang bagi siapa pun yang datang dengan niat baik. Kawasan ini terasa seperti ruang sunyi yang dijaga alam dengan penuh kesabaran.

Di tempat-tempat seperti inilah kita belajar bahwa keindahan tidak pernah meminta banyak, ia hanya meminta untuk tidak dirusak. Pulau Senja dan Pantai Kartika bukan sekadar destinasi wisata, tetapi titipan masa depan, yang keberlanjutannya bergantung pada kebijakan, kesadaran, dan sikap kita hari ini. Sebab alam, sekali rusak, tak pernah benar-benar bisa kembali utuh.

Dan ketika senja kelak benar-benar jatuh di Pulau Senja, semoga yang tenggelam hanyalah matahari, bukan harapan kita untuk mewariskan alam yang lestari bagi generasi yang akan datang.

Share this content:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *