Kepariwisataan,  Opini

Ziarah di Kampung yang hilang

IMG_2078-scaled Ziarah di Kampung yang hilang

Bagi mereka, pulau ini bukan sekadar tempat berwisata, melainkan tempat berziarah, mendoakan arwah leluhurnya.

Di atas hamparan pasir putih, di bawah rindangnya pohon kelapa dan pinus, tenda berdiri dengan tegap. Kursi dan meja tertata rapi tepat di hadapan tenda. Angin berhembus pelan dari arah barat, membawa aroma laut yang menenangkan. Aktivitas di pulau ini tidak terlalu ramai, justru itulah yang membuatnya terasa hangat, menjadi tempat yang nyaman untuk berkumpul dan menikmati waktu bersama keluarga.


Siapa sangka, pulau yang kini tampak tenang dan indah ini, dahulu merupakan tempat bermukimnya masyarakat nelayan. Kehidupan mereka lekat dengan perahu, jala, kail, bubu, dan tombak. Sejak dini hari, aktivitas telah dimulai, yang laki-laki bersiap melaut, sementara perempuan mengolah hasil tangkapan. Sebagiannya dijual, sebagian lagi disisihkan untuk kebutuhan sehari-hari.


Seluruh hidup mereka bergantung pada cuaca. Ketika alam bersahabat, laut menghadirkan rezeki. Namun ketika angin kencang dan gelombang tinggi datang, mereka menunggu dengan sabar bertahan tanpa melaut.


Pulau ini dikenal sebagai kampung nelayan, sebuah perkampungan permanen yang dihuni oleh masyarakat Suku Bajo. Pulau ini bukan sekadar tempat singgah, melainkan ruang hidup yang menetap dan diwariskan dari lintas generasi.


Namun waktu membawa perubahan. Pulau yang telah lama mereka diami perlahan menjadi tempat yang tidak lagi aman. Daratan terus tergerus oleh air laut, menyusut dari waktu ke waktu. Abrasi yang kian parah membuat pulau ini kehilangan bentuknya yang dahulu.


Kondisinya semakin memprihatinkan. Seluruh penduduk akhirnya direlokasi ke wilayah daratan. Relokasi tidak hanya menyentuh mereka yang masih hidup, tetapi juga makam-makam yang ada di pulau ini. Sayangnya, beberapa makam telah lebih dulu tergerus oleh abrasi sehingga tidak sempat lagi untuk dipindahkan. Perubahan alam ternyata bukan hanya menghilangkan daratan, tetapi juga perlahan menghapus jejak sejarah sosial yang pernah tumbuh dan hidup di atasnya.


Kini, pulau yang ditinggalkan itu perlahan bangkit dan dikembangkan menjadi destinasi wisata. Hamparan pasir putih membingkai pesisirnya, sementara deretan pohon kelapa dan pinus menghadirkan suasana teduh dan menenangkan, seolah menyambut setiap langkah yang datang, tanpa sepenuhnya menceritakan kisah lama yang pernah terjadi.


Dari bibir pantai, saya menatap laut, menikmati dan merasakan aroma khasnya. Airnya masih biru, ombaknya masih berkejaran, namun ada sesuatu yang hilang, di dasar laut, terumbu karang yang seharusnya berwarna-warni kini patah, hancur, dan memutih. Ulah dari sebuah botol kecil berisi racikan yang sekali dentum ratusan ikan mengapung, dan karang hancur menjadi puing-puing.


Barangkali kemiskinan telah memaksa mereka untuk menghancurkan rumanya sendiri. Laut yang dulu memberi kehidupan kini meninggalkan luka yang tidak mudah untuk dipulihkan. Dibalik setiap karang yang hancur tersimpan kisah tentangĀ  keserakahan, keterpaksaan dan penyesalan yang datang terlambat.


Tidak terasa waktu menunjukan pukul 18.14, azan magribpun berkumandang, menandai waktu untuk menunaikan kewajiban sekaligus mendoakan mereka yang pernah tinggal, hidup dan dikebumikan di pulau ini.

Share this content:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *