Kepariwisataan,  Reflektif,  Uncategorized

Penjaga Gerbang Maritim

IMG_1988-1-768x1024 Penjaga Gerbang Maritim


Usianya hampir setengah abad. Hingga kini, patung itu masih berdiri kokoh di depan gerbang Pelabuhan Kota Baubau. Andai saja dia hidup dan berbicara, mungkin dia adalah saksi atas hiruk-pikuk aktivitas para pekerja pelabuhan dari masa ke masa. Dia tentu tahu kini sudah masuk generasi ke berapa para buruh pelabuhan yang berjubel dengan barang bawaan penumpang kapal. Mungkin dia juga bertanya-tanya ke mana perginya para tukang becak yang dulu berjejer ramai di dekat gerbang pelabuhan. Wajah-wajah tukang ojek yang dulu mangkal dan berebut penumpang kini telah berganti. Ia hafal betul para penumpang kapal yang hampir setiap minggu datang dan berangkat, kini wajah-wajah lama tidak terlihat lagi, yang tersisa hanyalah wajah-wajah baru dengan jadwal kedatangan dan keberangkatan yang sama.

Hari ini saya kembali datang, lebih tepatnya, pulang.
Banyak hal yang berubah. Daeng yang dulu berjualan buroncong sudah tidak terlihat lagi, dulu gerobaknya tepat  di sudut gerbang masuk pelabuhan. Sama halnya dengan La Teke, sebutan akrab yang dikenal masyarakat setempat, kini semakin sulit ditemui, mungkin dia sudah punya kesibukan lain. Dalam ingatan saya dia seperti potongan kaset lama yang menyimpan  banyak  kisah-kisah nostalgia.

Saya berdiri tepat di depan Patung Murhum, sebuah ikon yang menjulang di pintu gerbang pelabuhan. Sosoknya tampak jelas bagi para pelayar dan pengunjung yang datang melalui jalur laut. Patung ini bukan sekadar penanda ruang, melainkan identitas sejarah wilayah Buton yang kini bernama Kota Baubau.

Nama yang diabadikan pada patung itu adalah La Kilaponto. Ia berkuasa pada abad ke-16, sekitar tahun 1590-an. La Kilaponto merupakan figur transisi penting dalam sejarah Buton, sebab pada masa pemerintahannya Kerajaan Buton bertransformasi menjadi Kesultanan Buton. Setelah memeluk Islam, ia diberi gelar Sultan Murhum Kaimuddin Khalifatul Khamis, Sultan Buton ke-6.
Pada masa kepemimpinan Sultan Murhum, Buton menempati posisi geografis yang sangat strategis. Kondisi ini menjadikan wilayah Wolio dan pesisir Baubau sebagai pelabuhan persinggahan kapal-kapal dagang Nusantara. Terlebih setelah hijrahnya beliau ke dalam ajaran Islam, maka Buton masuk ke dalam jaringan perdagangan Islam internasional. Hubungan dagang terjalin dengan para pedagang dari Johor, Malaka, Arab, hingga Gujarat.
Sebuah langkah yang dapat dibaca sebagai strategi geopolitik dan ekonomi.

Di bawah kepemimpinan Sultan Murhum, pelabuhan-pelabuhan di wilayah Buton dikenal sebagai tempat berlabuh yang aman dan netral bagi para pedagang dari berbagai kerajaan. Tidak heran jika kini budaya keterbukaan terhadap pendatang begitu melekat dalam kehidupan masyarakat Buton.

Kini, yang tersisa hanyalah nama dan kisahnya. Sultan Murhum bukan sekadar penguasa yang religius, tetapi juga arsitek awal yang menjadikan Buton sebagai simpul penting perdagangan maritim Nusantara dan dunia.

Barangkali itulah alasan mengapa sosoknya diabadikan dalam sebuah patung yang berdiri tepat di depan gerbang pelabuhan menghadap laut, menyambut setiap kedatangan, dan melepas setiap kepergian, sebagaimana perannya di masa lalu.

IMG_1990-1-768x1024 Penjaga Gerbang Maritim

Share this content:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *