Fight or Flight

Dalam banyak situasi, manusia justru menunjukan kemampuan terbaiknya ketika berada dalam tekanan atau kondisi yang terdesak. Ketika pilihan semakin sempit, maka otak dipaksa bekerja lebih cepat, dan lebih inovatif untuk menemukan jalan keluar. Berbagai penelitian menjelaskan bahwa tubuh akan mengaktifkan respon fight or flight (melawan atau melarikan diri). Ini adalah sebuah mekanisme biologis yang terjadi tanpa sadar, sifat alamiah sebagai bentuk pertahanan diri. Pikiran menjadi lebih tajam, adrenalin naik, dan kemampuan dalam membuat keputusan meningkat. Di momen inilah kreatifitas biasanya akan muncul, bahkan hal yang belum pernah terfikirkan sebelumnya.
Melawan atau melarikan diri ? sebuah pertanyaan yang muncul dibenak para pemangku kebijakan di daerah pasca ditetapkannya kebijakan fiskal Nasional, pemotongan teransfer ke daerah (TKD), yang selama ini menjadi sumber pembiayaan dan menjadi penopang utama Pemerintah Daerah, mulai dari gaji ASN, layanan dasar hingga operasional daerah, tiba-tiba harus mengalami penyesuaian anggaran. Kondisi ini memaksa para Kepala Daerah untuk menata ulang strategi pengelolaan keuangan agar tetap mampu memberikan pelayanan publik secara optimal.
Melawan’ .. ya respon perlawanan ditunjukan oleh sejumlah kepala daerah yang tergabung dalam Asosiasi Pemerintah Provinsi seluruh Indonesia (APPSI), melakukan pertemuan dengan Menteri Keuangan guna memprotes kebijakan pemotongan atau efisiensi dana transfer ke daerah. Perlawanan itu termuat dalam pemberitaan resmi, mulai dari laman Kemenkeu, hingga media Nasional seperti Liputan6 dan Antara. Sebuah sinyal bahwa daerah tidak tinggal diam dalam menghadapi tekanan fiskal yang jumlahnya tidak sedikit.
Dalam psikologi respon stres, ketika seseorang atau suatu kelompok sudah mencoba fight (melawan) namun gagal, maka reaksi alamiah berikutnya adalah flight (melarikan diri atau menghindari dampak). Dalam konteks kebijkan fiskal, flight bukan berarti menolak atau melawan regulasi, melainkan mencari jalur penyelamat, dengan menata ulang program dan memprioritaskan kebutuhan. Mencari jalur penyelemat adalah strategi untuk meminimalkan dan menghindari kerusakan yang lebih besar.
Dibalik tekanan pemotongan dana transfer ke daerah, sebenarnya tersimpan peluang besar bagi daerah untuk memperbaiki tata kelola Pemerintahan. Bagi daerah yang mampu beradaptasi, disiplin dan responsif, maka kebijakan ini bisa menjadi momentum untuk menunjukan ketangguhan. Mereka yang kreatif biasanya tetap mampu mempertahankan kulaitas layanan publik meski kondisi tidak ideal, sebaliknya bagi daerah yang terlalu bergantung pada transfer pusat harus berani melakukan reformasi struktural agar tidak selalu berada dalam posisi rentan setiap kali kebijakan fiskal nasional berubah.
Tekanan memang tidak menyenangkan, namun sering kali, justru di titik terdesak itulah kreatifitas dan ketahanan sebuah daerah diuji dan pada akhirnya, TERBENTUK.
Share this content:

