• Opini

    Fight or Flight

    Dalam banyak situasi, manusia justru menunjukan kemampuan terbaiknya ketika berada dalam tekanan atau kondisi yang terdesak. Ketika pilihan semakin sempit, maka otak dipaksa bekerja lebih cepat, dan lebih inovatif untuk menemukan jalan keluar. Berbagai penelitian menjelaskan bahwa tubuh akan mengaktifkan respon fight or flight (melawan atau melarikan diri). Ini adalah sebuah mekanisme biologis yang terjadi tanpa sadar, sifat alamiah sebagai bentuk pertahanan diri. Pikiran menjadi lebih tajam, adrenalin naik, dan kemampuan dalam membuat keputusan meningkat. Di momen inilah kreatifitas biasanya akan muncul, bahkan hal yang belum pernah terfikirkan sebelumnya. Melawan atau melarikan diri ? sebuah pertanyaan yang muncul dibenak para pemangku kebijakan di daerah pasca ditetapkannya kebijakan fiskal Nasional, pemotongan…

  • Kepariwisataan,  Opini

    Wisata berkualitas dimulai dari usaha yang terstandar

    Beberapa hari yang lalu, sebuah musibah terjadi di salah satu usaha pariwisata dan menelan korban jiwa. Peristiwa ini kembali mengingatkan kita tentang betapa pentingnya kesadaran kolektif dalam memperkuat sistem keselamatan di sektor pariwisata. Jika ditelusuri, kecelakaan pada umumnya dipengaruhi oleh dua faktor utama, faktor alam dan faktor kelalaian manusia. Namun, analisis menunjukkan bahwa kelalaian manusia menyumbang 70–90% penyebab kecelakaan, jauh lebih tinggi dibandingkan faktor alam yang hanya berada pada kisaran 10–30%. Angka ini dengan jelas menggambarkan bahwa peningkatan kesadaran, kepatuhan terhadap aturan, serta penguatan sistem keselamatan bukan lagi pilihan tetapi sudah menjadi kebutuhan mendesak. Pemerintah telah mengeluarkan berbagai kebijakan dan aturan dalam rangka memastikan bahwa setiap kegiatan usaha dijalankan sesuai…

  • Pegawai Kantoran,  Reflektif

    Sekedar menunaikan kewajiban

    Pagi itu, udara masih sejuk. Matahari masih belum utuh menampakan sinarnya. Suasana sejuk di area perkantoran Gubernur, pohon-pohon  seakan berbisik, “Ayo semangat wahai para pelayan masyarakat, ini sudah hari senin!” Seperti biasa, Lapangan upacara mulai di penuhi para ASN, Mereka datang dengan ekspresi khas hari pertama kerja, tatapan kosong dan bingung-bingung, barangkali masih terbawa suasan libur kemarin. Apel pagi dimulai pukul 07.30. Para pimpinan barisan mulai menyiapkan pasukannya. Para peserta ada yang sigap mengikuti arahan, ada juga yang tampak seperti kehilangan arah, berdiri diam dengan tatapan kosong ke cakrawala, seperti orang yang belum iklas kalau hari ini sudah hari senin. Pemandangan Dari depan, barisan tampak rapi dan tertib. Sangat mengesankan,…

  • Pegawai Kantoran,  Reflektif

    “Roasting” Pagi

    Penegakan disiplin bagi seluruh ASN kini menjadi perhatian serius bagi para pimpinan instansi. Salah satu bentuk nyata penegakan disiplin itu adalah apel, baik apel pagi maupun apel sore. Bahkan kini apel sudah jadi isu nasional tingkat instansi. topik yang selalu dibicarakan di mana-mana, menjadi perbandingan antara instansi satu dan instansi lainnya seolah apel menjadi satu satunya indikator keberhasilan dari sebuah instansi. Setiap pegawai dituntut bisa menjadi petugas apel, alias pimpinan barisan. Tugasnya sebenarnya sederhana, menyiapkan barisan, memberi aba-aba, melapor ke pembina apel, memimpin doa, lalu membubarkan barisan. Tapi entah mengapa, saat giliran tiba, tugas yang “sederhana” itu terasa seperti sedang memimpin upacara kemerdekaan di Istana Negara. Pukul 07.30, para pegawai sudah berbaris rapi…

  • Pegawai Kantoran,  Reflektif

    Ninja Sejati

    Di sebuah ruangan berukuran 6×9 meter. Seperti hari-hari biasanya, para pegawai terlihat sibuk dengan ritual sakral mereka masing-masing. Menatap layar PC dan jari jemarinya menari di atas papan keyboard. Ada yang mengetik laporan harian di aplikasi My ASN, ada yang menyusun konsep kegiatan, ada juga yang sedang berburu deadline mengumpulkan data dan dokumen permintaan dari bagian perencanaan. Dan ada juga segelintir pegawai yang masih sempat  menscroll TikTok dan Instagram, melakukan riset sosial media untuk “menambah wawasan”.Pagi ini kantor terasa lebih ramai dari biasanya. Beberapa pegawai mondar-mandir ke ruangan Kepala Bidang. Ada yang masuk dan ada juga yang keluar.  Yang keluar wajahnya seperti baru sajamenerima “penugasan wajib militer”. Dan yang mau…

  • Pegawai Kantoran,  Reflektif

    Antara Terompet dan Deadline

    Di sebuah ruangan berukuran 6×9 meter. Para pegawai tenggelam dalam lautan tugas dan tanggung jawab. Ada yang serius menyusun konsep seperti sedang menyusun “pidato kenegaraan”. Ada yang kejar-kejaran dengan deadline ajang nominasi Kementerian seolah hidupnya ditentukan oleh submit sebelum jam 12.00 siang. Ada juga yang sibuk menelpon kanan-kiri, mirip petugas layanan pelanggan Telkomsel pas sedang jam sibuk. Dan satu orang pegawai terlihat sedang bertapa dalam keheningan. Suasana mendadak hening, begitu heningnya hingga suara napas terdengar lebih jelas dari suara nada notifikasi WhatsApp. Dan tiba-tiba… TIIIIIUUUUUTTTTT!!! Sebuah suara terompet meraung keras. sebagian mengira kalau itu suara terompet sangkakala sedangkan sebagian lagi mengira kalau itu suara terompet perang di zaman Majapahit dulu,…

  • Pegawai Kantoran,  Reflektif

    Berburu Apel Pagi

    Selasa 08 Juli 2025 Sejak Wakil Gubernur melakukan sidak ke kantor kami, suasana langsung berubah 180 derajat. Kalau sebelumnya apel pagi itu semacam mitos yang sering dibicarakan, tapi jarang terlihat, maka kini ia telah menjelma menjadi “rutinitas sakral”. Budaya apel pagi sekarang sudah mendarah daging di lingkungan Dinas Pariwisata. Bahkan, beberapa pegawai kayaknya lebih takut ketinggalan apel pagi dari pada ketinggalan “sholat berjamaah“. Alasannya karena jika satu hari tidak apel sama dengan satu hari dianggap tidak hadir, maka satu langkah lebih dekat menuju “surat cinta” dari pembina kepegawaian. Maka tidak heran, banyak yang rela jadi “pejuang subuh“, berangkat gelap demi satu tujuan mulia “stempel kehadiran”. Masuk kantor sekarang tidak cukup…

  • Pegawai Kantoran,  Reflektif

    Pesan untuk pengabdian

    Rabu 02 Juli 2025 Pagi ini suasana di dalam ruangan terasa tidak biasa. Ruangan berukuran 6 x 9 meter yang biasanya bisa dijadikan tempat kontemplasi karena saking sunyinya, tiba-tiba berubah menjadi arena survivor. Meja yang dulu kesepian kini harus berbagi nasib. Ada yang semeja berdua, ada yang duduk di kursi tanpa meja, dan ada juga yang berdiri di depan pintu sambil berpura-pura santai, padahal berharap ada yang menawarkan tempat duduk. Sehari sebelumnya, ruangan ini lebih mirip ruang hampa. Kadang hanya satu-dua pegawai yang setia mengotak-atik komputer sambil menyeruput kopi mama hendrik. Bahkan, di waktu-waktu tertentu, ruangan ini berubah status menjadi kosong.Hanya diisi suara angin AC dan notifikasi email di PC kantor yang…