Reflektif

  • Pegawai Kantoran,  Reflektif

    Antara Terompet dan Deadline

    Di sebuah ruangan berukuran 6×9 meter. Para pegawai tenggelam dalam lautan tugas dan tanggung jawab. Ada yang serius menyusun konsep seperti sedang menyusun “pidato kenegaraan”. Ada yang kejar-kejaran dengan deadline ajang nominasi Kementerian seolah hidupnya ditentukan oleh submit sebelum jam 12.00 siang. Ada juga yang sibuk menelpon kanan-kiri, mirip petugas layanan pelanggan Telkomsel pas sedang jam sibuk. Dan satu orang pegawai terlihat sedang bertapa dalam keheningan. Suasana mendadak hening, begitu heningnya hingga suara napas terdengar lebih jelas dari suara nada notifikasi WhatsApp. Dan tiba-tiba… TIIIIIUUUUUTTTTT!!! Sebuah suara terompet meraung keras. sebagian mengira kalau itu suara terompet sangkakala sedangkan sebagian lagi mengira kalau itu suara terompet perang di zaman Majapahit dulu,…

  • Pegawai Kantoran,  Reflektif

    Berburu Apel Pagi

    Selasa 08 Juli 2025 Sejak Wakil Gubernur melakukan sidak ke kantor kami, suasana langsung berubah 180 derajat. Kalau sebelumnya apel pagi itu semacam mitos yang sering dibicarakan, tapi jarang terlihat, maka kini ia telah menjelma menjadi “rutinitas sakral”. Budaya apel pagi sekarang sudah mendarah daging di lingkungan Dinas Pariwisata. Bahkan, beberapa pegawai kayaknya lebih takut ketinggalan apel pagi dari pada ketinggalan “sholat berjamaah“. Alasannya karena jika satu hari tidak apel sama dengan satu hari dianggap tidak hadir, maka satu langkah lebih dekat menuju “surat cinta” dari pembina kepegawaian. Maka tidak heran, banyak yang rela jadi “pejuang subuh“, berangkat gelap demi satu tujuan mulia “stempel kehadiran”. Masuk kantor sekarang tidak cukup…

  • Pegawai Kantoran,  Reflektif

    Pesan untuk pengabdian

    Rabu 02 Juli 2025 Pagi ini suasana di dalam ruangan terasa tidak biasa. Ruangan berukuran 6 x 9 meter yang biasanya bisa dijadikan tempat kontemplasi karena saking sunyinya, tiba-tiba berubah menjadi arena survivor. Meja yang dulu kesepian kini harus berbagi nasib. Ada yang semeja berdua, ada yang duduk di kursi tanpa meja, dan ada juga yang berdiri di depan pintu sambil berpura-pura santai, padahal berharap ada yang menawarkan tempat duduk. Sehari sebelumnya, ruangan ini lebih mirip ruang hampa. Kadang hanya satu-dua pegawai yang setia mengotak-atik komputer sambil menyeruput kopi mama hendrik. Bahkan, di waktu-waktu tertentu, ruangan ini berubah status menjadi kosong.Hanya diisi suara angin AC dan notifikasi email di PC kantor yang…