“Roasting” Pagi


Penegakan disiplin bagi seluruh ASN kini menjadi perhatian serius bagi para pimpinan instansi. Salah satu bentuk nyata penegakan disiplin itu adalah apel, baik apel pagi maupun apel sore. Bahkan kini apel sudah jadi isu nasional tingkat instansi. topik yang selalu dibicarakan di mana-mana, menjadi perbandingan antara instansi satu dan instansi lainnya seolah apel menjadi satu satunya indikator keberhasilan dari sebuah instansi.
Setiap pegawai dituntut bisa menjadi petugas apel, alias pimpinan barisan. Tugasnya sebenarnya sederhana, menyiapkan barisan, memberi aba-aba, melapor ke pembina apel, memimpin doa, lalu membubarkan barisan. Tapi entah mengapa, saat giliran tiba, tugas yang “sederhana” itu terasa seperti sedang memimpin upacara kemerdekaan di Istana Negara.
Pukul 07.30, para pegawai sudah berbaris rapi di halaman kantor. Barisan di kelompokan berdasarkan bidang masing-masing , di situlah terlihat bidang mana yang rajin dan bidang mana yang masih “sedang berjuang”.
Dulu, sebelum ada tambahan pegawai dari gelombang CPNS dan PPPK, petugas apel itu-itu saja. Sudah seperti langganan tetap. Jadi ketika pegawai baru datang, rasanya seperti datang bala bantuan dari langit “Akhirnya, ada pemain pengganti !” kalimat yang diucapkan oleh para veteran
Namun, latar belakang pegawai baru tentu beragam. Maka atas arahan pimpinan mereka diberi pelatihan kilat baris-berbaris selama 20 menit, hasilnya pun variatif, ada yang tegap, ada yang patah-patah, ada pula yang seperti sedang menirukan gerakan robot.
Tibalah saat yang ditunggu-tunggu.
Apel pagi dimulai. Petugas apel dari salah satu bidang maju dengan penuh percaya diri.
“Siapppp, gerak!”
Suaranya lantang. Tatapannya tajam. Para pegawai senior mengangguk kagum. Bahkan pembina apel pun tampak terkesima.
“Hormat, grakkk!”
Semakin mantap. Semua nyaris sempurna, hingga tiba di momen krusial. Laporan.
“Takkkk!” hentakan kakinya terdengar gagah. Namun di saat bersamaan, tangan kirinya ikut berayun, bukannya kanan. Dalam sekejap, keseriusan apel berubah jadi drama komedi pagi. Pegawai lain menahan tawa sekuat tenaga, sementara pembina apel berusaha menjaga wibawa dengan ekspresi setengah senyum.
Meski begitu, setiap penampilan pimpinan barisan selalu mendapat apresiasi. Baik yang tampil memukau, maupun yang tampil “memprihatinkan”, semua dianggap bagian dari proses belajar. Bahkan tidak jarang, apel berubah menjadi ajang roasting ringan. Pembina apel melontarkan komentar jenaka, para peserta apel tertawa terbahak-bahak suasana yang tadinya tegang pun mulai mencair.
Akhirnya, apel pagi bukan lagi sekadar kegiatan formal, tapi jadi momen kebersamaan. Ada tawa, ada perhatian, ada rasa deg-degan, terutama bagi mereka yang ditunjuk jadi pimpinan barisan.
Apel bukan hanya soal baris berbaris, tapi juga tentang bagaimana belajar tentang kedisiplinan. Karena di balik kewajiban pelaksanaan apel, selalu ada cerita lucu yang membuat pagi di kantor terasa lebih hidup.
Share this content:

