Ninja Sejati

Di sebuah ruangan berukuran 6×9 meter. Seperti hari-hari biasanya, para pegawai terlihat sibuk dengan ritual sakral mereka masing-masing. Menatap layar PC dan jari jemarinya menari di atas papan keyboard. Ada yang mengetik laporan harian di aplikasi My ASN, ada yang menyusun konsep kegiatan, ada juga yang sedang berburu deadline mengumpulkan data dan dokumen permintaan dari bagian perencanaan.
Dan ada juga segelintir pegawai yang masih sempat menscroll TikTok dan Instagram, melakukan riset sosial media untuk “menambah wawasan”.
Pagi ini kantor terasa lebih ramai dari biasanya. Beberapa pegawai mondar-mandir ke ruangan Kepala Bidang. Ada yang masuk dan ada juga yang keluar. Yang keluar wajahnya seperti baru saja
menerima “penugasan wajib militer”. Dan yang mau masuk tidak kalah cemas, siap-siap menerima “titah suci” berikutnya.
Sementara yang tidak terlibat hanya duduk manis di kursi, sesekali melirik ke arah pintu ruang kepala bidang “ada aktifitas apa didalam? ”mungkn dalam hatinya seperti itu”.
Ditengah suasana sibuk dan agak tegang itu, tok tok tok!
Suara ketukan pintu ruang staf membuyarkan segalanya. Muncullah Pak Ula, staf khusus sekaligus
penjaga gerbang suci ruangan Kepala Dinas. Dengan langkah terburu-buru ia masuk, tangan kiri memegang selembar kertas, tangan kanan memegang sepotong kue bolu, entah mungkin itu hasil sitaan dari ruangan sebelah.
Pak Ula mendekati salah satu pegawai, lalu berbisik lirih seakan sedang membocorkan rahasia negara “Kata Bapak… tolong ini segera dikerjakan.”
Sang pegawai mengangguk penuh wibawa. Namun tiga detik kemudian ekspresinya berubah,
Kata demi kata dibaca, bait demi bait surat itu dibaca, sampai selesai. Ditutup dengan ekspresi menarik napas panjang, lalu menatap ke atas plafon. Mencari ide, mungkin idenya sembunyi di sana. Setelah beberapa detik meditasi vertikal, ia mulai membuka Microsoft Word. Kata demi kata ia rangkai, kalimat demi kalimat ia bentuk. Tombol backspace jadi sahabat sejatinya, yang lebih sering ditekan dari pada tombol huruf vokal. sesekali ia melirik lagi ke plafon, barangkali sebagian ide masih tersangkut di sudut langit-langit.
Dan ternyata menurut penelitian psikologi kognitif, ketika seseorang membayangkan
sesuatu, maka mata cenderung bergerak ke arah tertentu, terutama ke atas, untuk
mengakses imajinasi.
Akhirnya, setelah perjuangan panjang, bergelut dengan kata, imajinasi, dan sedikit
bisikan gaib dari kursor yang berkedip, dokumen itu pun rampung. Dengan bangga,
menyerahkannya kepada pimpinan. Misi selesai dan otak pun berkeringat.
Namun Itu dulu..
Sebelum ChatGPT hadir. Kini, semuanya berubah. Tinggal ketik sedikit, selesai. Bahkan
tanpa berpikir pun, dokumen bisa lahir dengan kalimat yang rapi, bahasa yang
indah, dan gaya yang meyakinkan.
Namun di balik kemudahan itu, muncul kekhawatiran baru “Kalau ChatGPT terus jadi
jurus andalan, apa kabarnya kemampuan otak kita ?
Meski begitu, setiap kali tenggat waktu datang menyerang, dan ide tidak kunjung datang,
meskipun sudah menatap plafon lima belas menit, ia tahu harus melakukan apa.
Dengan senyum licik dan suara lirih, ia berbisik pada dirinya sendiri “Baiklah… saatnya memanggil jurus pamungkas.” ‘ChatGPT no Jutsu!’ Dan seperti ninja digital sejati, ia pun menekan Enter. Menyerahkan sisa urusannya kepada sang AI kesayangan.
Share this content:

