Berburu Apel Pagi

Selasa 08 Juli 2025
Sejak Wakil Gubernur melakukan sidak ke kantor kami, suasana langsung berubah 180 derajat. Kalau sebelumnya apel pagi itu semacam mitos yang sering dibicarakan, tapi jarang terlihat, maka kini ia telah menjelma menjadi “rutinitas sakral”.
Budaya apel pagi sekarang sudah mendarah daging di lingkungan Dinas Pariwisata. Bahkan, beberapa pegawai kayaknya lebih takut ketinggalan apel pagi dari pada ketinggalan “sholat berjamaah“. Alasannya karena jika satu hari tidak apel sama dengan satu hari dianggap tidak hadir, maka satu langkah lebih dekat menuju “surat cinta” dari pembina kepegawaian. Maka tidak heran, banyak yang rela jadi “pejuang subuh“, berangkat gelap demi satu tujuan mulia “stempel kehadiran”.
Masuk kantor sekarang tidak cukup hanya check-in, harus check, double check, triple check. Sistem absensi dibuat sedemikian rupa sehingga hampir mustahil untuk di akali. Ada tiga tahap verifikasi kehadiran yang harus dilalui. Pertama, Absensi menggunakan aplikasi, ah.. kalau ini bisa “diakali”, asal berbaik hati dengan si admin. Yang kedua, menggunakan absensi manual atau tanda tangan, nah ini pun bisa “dilobi”, asal kenal siapa yang pegang pulpen. Sedangkan yang ketiga adalah absen melalui dokumentasi foto, nah inilah ujian sesungguhnya. Karena Kamera HP kasubag kepegawaian tidak mengenal kompromi dan tidak mengenal belas kasihan. Ada gosip bahkan akan ditambah lagi absen retina dan deteksi detak jantung. Katanya biar makin valid.
Untuk menghindari hukuman apel-nesia, para pegawai pun mulai menyusun strategi. Sudah seperti agen rahasia, sejak malam hari, papan strategi di rumah sudah mulai diatur, bangun jam berapa, mandi berapa menit, sarapan pakai telur atau tidak semua dihitung agar bisa keluar rumah sebelum jalanan berubah menjadi sirkuit dadakan.
Yang punya tugas negara tambahan seperti mengantar anak sekolah atau istri ke kantor, harus ekstra cepat. Mereka adalah pejuang multi tugas, menghadapi rintangan mulai dari membangunkan anak, menyiapkan sarapan, belum lagi kalau tiba-tiba gas didapur habis. Sementara yang masih jomblo punya keunggulan dalam kecepatan, tapi tetap bisa kalah oleh alarm yang “dikhianati”.
Pagi hari, jalan menuju kantor berubah menjadi “ajang MotoGP“. Banyak yang mendadak jadi Valentino Rossi. Ngebut, potong jalur, bahkan menerobos lampu merah dengan keyakinan penuh bahwa apel pagi adalah segalanya.
Ada juga manuver khas ibu-ibu, lampu sein kiri belok kanan, tiba-tiba rem mendadak, ekspresi tanpa beban dan tidak bersalah. Semua demi satu hal agar difoto berdiri di barisan apel.
Sesampainya di kantor dan melihat para pegawai baru bersiap-siap, rasanya begitu menyenangkan seperti naik podium “sultra run” . Apalagi kalau Om Daru, sang operator sound system, belum mulai angkat speaker. Itu artinya masih aman!
Pegawai yang datang awal terlihat santai dan segar seperti iklan adam sari, yang datang agak mepet mulai ngos-ngosan seperti habis lari 10 K, dan yang datang telat, wajahnya seperti peserta “Benteng Takeshi” yang baru lolos dari jembatan goyang, letih, lesu, tapi masih ada harapan.
Apel pagi ternyata bukan hanya soal berdiri berjajar dan mendengarkan pengarahan. Namun lebih dari itu, ini adalah momen pertama dalam hari kerja yang menentukan mood dan semangat. Kalau awalnya baik, insyaallah harinya pun ikut baik. Meski ada juga yang baru bisa melukis alis setelah apel selesai (karena dandan di rumah bisa bikin telat).
Semangat untuk hadir dan disiplin tetap patut diapresiasi. Di antara deru motor, detak jantung yang berpacu, dan senyum lelah para pejuang apel, kita belajar bahwa komitmen itu tidak harus serius, tapi harus konsisten.
Akhirnya, berburu apel pagi ini mengajarkan kita banyak hal. Bukan hanya tentang kehadiran secara fisik, tapi tentang tanggung jawab, kerja sama, dan sedikit kemampuan balap di pagi hari. Karena di balik apel pagi, tersimpan nilai-nilai yang tak ternilai dan tentunya ada nilai tunjangan (TPP) “yang tidak terpotong”.
Share this content:

