Antara Terompet dan Deadline

Di sebuah ruangan berukuran 6×9 meter. Para pegawai tenggelam dalam lautan tugas dan tanggung jawab. Ada yang serius menyusun konsep seperti sedang menyusun “pidato kenegaraan”. Ada yang kejar-kejaran dengan deadline ajang nominasi Kementerian seolah hidupnya ditentukan oleh submit sebelum jam 12.00 siang. Ada juga yang sibuk menelpon kanan-kiri, mirip petugas layanan pelanggan Telkomsel pas sedang jam sibuk. Dan satu orang pegawai terlihat sedang bertapa dalam keheningan.
Suasana mendadak hening, begitu heningnya hingga suara napas terdengar lebih jelas dari suara nada notifikasi WhatsApp.
Dan tiba-tiba…
TIIIIIUUUUUTTTTT!!! Sebuah suara terompet meraung keras. sebagian mengira kalau itu suara terompet sangkakala sedangkan sebagian lagi mengira kalau itu suara terompet perang di zaman Majapahit dulu, kami pun tersentak. layar monitor PC berguncang, Fokus buyar, konsep surat berhamburan di pikiran. Saya melirik jam tangan. Pukul 10.00 tepat. baru tersadar kalau ini bukan panggilan perang, ini panggilan jiwa Nasionalisme.
Sesuai dengan warisan sejarah, di jam segini dulu Ir Soekrano membacakan Proklamasi kemerdekaan. Mungkin karena alasan itu, maka di jam seginilah lagu Indonesia Raya berkumandang disetiap bangunan bangunan kantor pemerintahan.
Para pegawai mulai bergerak ke ruang tengah. Ada yang sigap seperti pasukan paskibra, ada yang jalannya lesu seperti habis lari 10K belum minum air putih. Beberapa ada pegawai yang mulutnya masih komat-kamit, seperti sedang menyusun kata-kata untuk menyempurnakan draf surat yang sedang disusunnya. Ada yang bahkan keluar ruangan sambil melakukan peregangan, seperti habis bangun dari tidur panjang di dalam gua pertapaan.
Setibanya di ruang tengah, semua bersiap. Lagu Indonesia Raya mulai dikumandangkan.
Ruang kantor berubah seketika menjadi panggung drama musikal bertema Nasionalisme. Ada yang menyanyi penuh semangat, suaranya lantang dan penuh jiwa, seperti veteran perang yang baru pulang dari medan pertempuran. Ada juga yang suaranya lebih mirip bisikan rahasia negara pelan tapi tetap bernyanyi. Beberapa menyanyikan dengan penghayatan yang dalam. mirip seperti pemain timnas yang siap berlaga di GBK. Tapi ada juga yang semangatnya selevel lampu 5 watt, cukup menyala, tapi tidak terang.
Namun, di balik segala dinamika itu, satu hal yang pasti, semua pegawai telah melaksanakan perintah pimpinan. Instruksi telah dijalankan. Lagu telah dinyanyikan dan dokumentasi pun aman tersimpan di ponsel Kasubbag Kepegawaian, sebagai bukti bahwa semangat patriotisme pegawai dispar masih menyala “tapi tidak terang”.
Share this content:

