Tentang saya
Di usia 19 tahun, sekolah keluar daerah untuk tujuan yang mulia, yakni belajar dan membawa ilmu pulang ke tanah kelahiran. Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) jadi rumah kedua saya. Tempat di mana saya digembleng bukan hanya fisik, tapi juga mental, disiplin, dan rasa tanggung jawab. Dibalik seragam yang gagah, ada doa orang tua. Dibalik aktifitas baris-berbaris, ada perjuangan panjang. Tepat pada tanggal 9 Juni 2015 adalah momen yang bersejarah, dimana Presiden RI ke-7, Bapak Ir. Joko Widodo secara simbolis menyematkan tanda kelulusan sebagai Pamong Praja Muda.
Di usia 24 tahun, saya memutuskan untuk menikah. berbekal niat, mental, dan sejujurnya agak sedikit nekat.
Menikah muda memang tidak selalu mulus, emosi kadang naik turun seperti harga lombo biji di pasar. Tapi sisi positifnya, punya energi yang lebih untuk membangun keluarga, dan anak-anak.
Tahun 2018, hadir seorang putra. Dia bukan hanya pelengkap hidup, tapi juga pengingat bahwa tanggung jawab itu nyata. Semoga ia tumbuh menjadi pribadi yang saleh, tangguh, dan tentu saja lebih hebat dari ayahnya.
Profesi ASN bukan sekadar soal gaji bulanan dan apel hari Senin. Ini tentang amanah, menjaga integritas, dan memastikan bahwa meja kerja adalah tempat melahirkan ide dan solusi. Karena menjadi ASN bukan pekerjaan biasa, ini jalan pengabdian.
Nama saya Muhammad Syamsul.
Seperti jutaan umat lainnya, nama Muhammad di bagian depan bukan karena tren, tapi itu sebagai bentuk penghormatan kepada sosok yang paling terpuji di dunia Islam. Dalam bahasa Arabnya, artinya yang terpuji. Jadi ekspektasi orang tua sejak lahir memang sudah tinggi duluan.
nama Syamsul sendiri berasal dari kata syams, yang artinya matahari. Jadi kalau dirangkai, nama saya bisa dimaknai “Orang yang terpuji dan bersinar terang seperti matahari.” Harapannya seperti itu.
Lahir di era 90-an berarti tumbuh di masa transisi yang unik. Masa ketika teknologi belum mendominasi hidup sehari-hari. Masa bermain kelereng, layang-layang, atau mainan legendaris lainnya seperti mobil Tamiya, Beyblade, Nintendo, Sega, dan PlayStation. setiap minggu pagi diisi dengan tontonanfilm kartun ada P-Man, Crayon Shinchan, Doraemon, Dragon Ball, Power Rangers, hingga Pokémon.
Dibesarkan dengan nilai adat Kesultanan Buton dan ditempa oleh kuliner khas seperti ikan parende, kasuami, kambuse, dan bagea.
Saya meyakini, hidup ini seperti birokrasi, kadang rumit, kadang berbelit, tapi tetap bisa dijalani asal sabar.