Reflektif
-
Di ujung Pasir Putih Lahonduru
Hari ini kami kembali menginjakan kaki disebuah desa yang suasananya begitu lekat dengan air laut, pasir putih dan pohon kelapa. Sebuah desa yang jalanannya putih, bukan karena cat atau paving block, melainkan karena jalanannya hanya beralaskan pasir putih yang halus. Hal inilah yang membentuk identitas desa ini menjadi desa wisata bahari. Kendaraan yang kami tumpangi perlahan memasuki kawasan permukiman. Aktifitas masyarakat desa menjadi pemandangan pembuka. Anak-anak yang berlari tanpa alas kaki, rumah-rumah panggung berdiri kokoh berjejer menghadap laut, pohon kelapa berdiri berbaris rapi dimana daunnya bergoyang mengikuti irama angin, di halaman rumah, ada ibu-ibu yang menjemur ikan kering. Pemandangan seperti ini mungkin bagi masyarakat desa hanyalah rutinitas biasa, namun bagi…
-
Dari Kebun Cengkeh Menuju Negeri di Atas Awan
Udara pagi terasa sejuk, membawa aroma khas bunga cengkeh yang mulai menguning. Harumnya mengalir lembut bersama angin, Sepanjang perjalanan, mata kami dimanjakan oleh panorama yang menenangkan. Hamparan pepohonan hijau berdiri rapat, sementara di sela-selanya tampak para petani yang tengah sibuk memanen cengkeh. Para petani itu memanjat pohon-pohon tinggi dengan cara yang sederhana namun mengagumkan. Mereka menggunakan batang bambu yang dirangkai menyerupai tangga, meski bentuknya jauh dari tangga pada umumnya. Dengan ketangkasan yang lahir dari pengalaman bertahun-tahun, mereka menaiki batang bambu itu hingga mencapai pucuk pohon, memetik bunga cengkeh yang telah menguning dengan penuh kehati-hatian. Di tengah perjalanan, kami berpapasan dengan beberapa petani yang sedang membawa hasil panennya menggunakan sepeda motor.…
-
Perjalanan yang sederhana
Pukul 10.15. Matahari bersinar begitu terik, seolah ingin menguji kesabaran kami sebelum menikmati hari ini. Kami baru saja tiba setelah menempuh perjalanan sekitar 45 menit dari Kota Kendari. Kendaraan yang kami tumpangi sepertinya lelah, sama juga dengan kami. Dari atas mobil, saya mencari tempat berteduh yang layak untuk kendaraan, melihat ke seluruh area parkir, hamparannya luas, sama seperti lapangan sepak bola, bedanya, cuman tidak ada gawang dan garis lapangan saja. Tanah lapang yang terbuka, nyaris tanpa perlindungan dari sengatan matahari. Saya mencari sudut yang sedikit lebih ramah, paling tidak kaca depan mobil saya tidak langsung terkena cahaya matahari. Perhatian saya tertuju pada sebuah pohon jambu. Bukan karena rindangnya, melainkan karena…
-
Diantara gerimis, senja dan harapan
Perahu kecil ini membelah laut Moramo Utara dengan pelan. Suara mesin tua berdengung lirih, membentuk irama khas perjalanan laut yang sederhana namun penuh makna. Saya duduk di pinggir perahu, tepat di depan sang juru kemudi. Angin asin mulai menyentuh wajah, membawa aroma laut yang akrab, sementara hujan gerimis jatuh perlahan, menghadirkan suasana syahdu. kini garis pantai Konawe Selatan kian menjauh ke belakang. Hari ini, tujuan kami adalah Pulau Senja dan Pantai Kartika. Beberapa pekan terakhir, Pulau Senja dan Pantai Kartika menjadi topik yang hangat diperbincangkan. Video dan narasinya berulang kali muncul di beranda TikTok saya. Video-video itu FYP. Dunia digital seolah menyatakan dukungannya. Sejak dulu, Pulau Senja dan Pantai Kartika…
-
Penjaga Gerbang Maritim
Usianya hampir setengah abad. Hingga kini, patung itu masih berdiri kokoh di depan gerbang Pelabuhan Kota Baubau. Andai saja dia hidup dan berbicara, mungkin dia adalah saksi atas hiruk-pikuk aktivitas para pekerja pelabuhan dari masa ke masa. Dia tentu tahu kini sudah masuk generasi ke berapa para buruh pelabuhan yang berjubel dengan barang bawaan penumpang kapal. Mungkin dia juga bertanya-tanya ke mana perginya para tukang becak yang dulu berjejer ramai di dekat gerbang pelabuhan. Wajah-wajah tukang ojek yang dulu mangkal dan berebut penumpang kini telah berganti. Ia hafal betul para penumpang kapal yang hampir setiap minggu datang dan berangkat, kini wajah-wajah lama tidak terlihat lagi, yang tersisa hanyalah wajah-wajah baru…
-
Senja di Limbo Wolio (Kisah Benteng, kosmologi dan Jejak Islam di Buton)
Seperti biasanya, sore ini kawasan Limbo Wolio kembali ramai oleh muda-mudi yang berolahraga mengitari Benteng Keraton Buton. Di sudut lain, para pengunjung tampak santai menikmati lembutnya angin sore, seolah mereka tidak ingin melewatkan detik demi detik cahaya jingga yang perlahan turun di atas kota Baubau. Saya duduk di sisi utara benteng, tepat di atas dinding yang disusun dari tumpukan batu kapur dan batu karang, sebuah karya arsitektur yang berdiri tegak selama berabad-abad. Senja di Limbo Wolio memang berbeda, ada rasa takjub yang selalu muncul setiap kali memandang ke sekeliling. Ke arah utara misalnya, hamparan pemukiman masyarakat kota Baubau terlihat indah, membentang hingga ke garis laut Selat Buton. Dari ketinggian ini,…
-
Sekedar menunaikan kewajiban
Pagi itu, udara masih sejuk. Matahari masih belum utuh menampakan sinarnya. Suasana sejuk di area perkantoran Gubernur, pohon-pohon seakan berbisik, “Ayo semangat wahai para pelayan masyarakat, ini sudah hari senin!” Seperti biasa, Lapangan upacara mulai di penuhi para ASN, Mereka datang dengan ekspresi khas hari pertama kerja, tatapan kosong dan bingung-bingung, barangkali masih terbawa suasan libur kemarin. Apel pagi dimulai pukul 07.30. Para pimpinan barisan mulai menyiapkan pasukannya. Para peserta ada yang sigap mengikuti arahan, ada juga yang tampak seperti kehilangan arah, berdiri diam dengan tatapan kosong ke cakrawala, seperti orang yang belum iklas kalau hari ini sudah hari senin. Pemandangan Dari depan, barisan tampak rapi dan tertib. Sangat mengesankan,…
-
“Roasting” Pagi
Penegakan disiplin bagi seluruh ASN kini menjadi perhatian serius bagi para pimpinan instansi. Salah satu bentuk nyata penegakan disiplin itu adalah apel, baik apel pagi maupun apel sore. Bahkan kini apel sudah jadi isu nasional tingkat instansi. topik yang selalu dibicarakan di mana-mana, menjadi perbandingan antara instansi satu dan instansi lainnya seolah apel menjadi satu satunya indikator keberhasilan dari sebuah instansi. Setiap pegawai dituntut bisa menjadi petugas apel, alias pimpinan barisan. Tugasnya sebenarnya sederhana, menyiapkan barisan, memberi aba-aba, melapor ke pembina apel, memimpin doa, lalu membubarkan barisan. Tapi entah mengapa, saat giliran tiba, tugas yang “sederhana” itu terasa seperti sedang memimpin upacara kemerdekaan di Istana Negara. Pukul 07.30, para pegawai sudah berbaris rapi…
-
Ninja Sejati
Di sebuah ruangan berukuran 6×9 meter. Seperti hari-hari biasanya, para pegawai terlihat sibuk dengan ritual sakral mereka masing-masing. Menatap layar PC dan jari jemarinya menari di atas papan keyboard. Ada yang mengetik laporan harian di aplikasi My ASN, ada yang menyusun konsep kegiatan, ada juga yang sedang berburu deadline mengumpulkan data dan dokumen permintaan dari bagian perencanaan. Dan ada juga segelintir pegawai yang masih sempat menscroll TikTok dan Instagram, melakukan riset sosial media untuk “menambah wawasan”.Pagi ini kantor terasa lebih ramai dari biasanya. Beberapa pegawai mondar-mandir ke ruangan Kepala Bidang. Ada yang masuk dan ada juga yang keluar. Yang keluar wajahnya seperti baru sajamenerima “penugasan wajib militer”. Dan yang mau…
-
Antara Terompet dan Deadline
Di sebuah ruangan berukuran 6×9 meter. Para pegawai tenggelam dalam lautan tugas dan tanggung jawab. Ada yang serius menyusun konsep seperti sedang menyusun “pidato kenegaraan”. Ada yang kejar-kejaran dengan deadline ajang nominasi Kementerian seolah hidupnya ditentukan oleh submit sebelum jam 12.00 siang. Ada juga yang sibuk menelpon kanan-kiri, mirip petugas layanan pelanggan Telkomsel pas sedang jam sibuk. Dan satu orang pegawai terlihat sedang bertapa dalam keheningan. Suasana mendadak hening, begitu heningnya hingga suara napas terdengar lebih jelas dari suara nada notifikasi WhatsApp. Dan tiba-tiba… TIIIIIUUUUUTTTTT!!! Sebuah suara terompet meraung keras. sebagian mengira kalau itu suara terompet sangkakala sedangkan sebagian lagi mengira kalau itu suara terompet perang di zaman Majapahit dulu,…











